Siang yang mendung itu aku bertemu dengannya di café tempat kami biasa bertemu.
“Gubrak!” suara meja yang dihentakkan oleh Ozan.
“Maumu apa sih? Aku punya salah apa sama kamu? Please, kamu ngomong jangan diem aja!”
Dengan sedikit menggertak Ozan bertanya padaku. Yaah, beginilah kisahku dengan Ozan Liozan. Mahasiswa hokum semester dua di Universitas Indonesia, Jakarta. Sedangkan aku hanya siswa kelas X di SMA N 8 Jakarta.
“Mauku kamu ngertiin aku! Jangan egois gitu! Aku tahu kita beda dalam semua hal! Tapi jangan anggap itu semua halangan buat hubungan kita!” kataku dengan lantang.
Hampir dua bulan aku merajut tali kasih dengannya. Tapi, hamper setiap hari pula kami beradu mulut.
“Oke. Sekarang apa yang enggak kamu suka dari aku?” Tanya Ozan padaku.
“Aku enggak suka kamu ol facebook, twitter, ym, plurk terus! Kalau kamu lagi ol, kamu pasti lupa sama aku! Telfon engga diangkat, sms enggak dibales! Males banget kalau udah gitu!” lagi-lagi jawabku dengan lantang.
“Kalau itu maumu, aku bakal turutin. Tapi inget, jangan pernah cuekin aku! Soalnya aku paling engga suka dicuekin!” minta Ozan padaku.
Yaah, hari itu penuh emosi buatku. Terlalu letih untuk mengingatnya. Bukan karena apa-apa. Tapi, hanya malas untuk mengingatnya.
“Alee, ada Ozan!” teriak mama memanggilku. Aku bergegas menemui Ozan yang duduk di ruang tamu.
“Hei, mau kemana hari ini?” tanyaku penasaran pada Ozan.
“Ada deh. Buruan ganti baju! Jangan lupa bawa topi!” pesan Ozan.
Aku bergegas mengganti pakaian. Tak lupa kubawa topi tentunya.
“Gimana, gini aja pakaianku?” tanyaku pada Ozan dengan menggunakan skiny jeans, kaos polos, sepatu dan topi.
“Oke, gitu aja bagus kok. Hari ini panjang soalnya” jawab Ozan penuh teka-teki.
Setelah pamit, aku dan Ozan bergegas menaiki mobil. Ozan tampak senang hari ini. Dengan lagu-lagu elektrikal yang menemani kami disepanjang perjalanan. Sempat bergurau kami berdua. Menertawakan imajinasi kami yang melihat keramaian diluar melalui kerangka besi.
Tak lama, kami pun tiba. Ternyata kota lama tujuan Ozan hari ini. Ozan memarkirkan mobilnya di areal parkir kota lama.
“Alee, pakai topimu. Diluar panas” Ozan mengingatkanku.
Dengan menggunakan jaket kulit dan membawa kameranya Ozan turun dari mobil.
“Hah, ternyata masi sama. Tak ada yang berubah dari tempat ini.” Kata Ozan penuh keyakinan.
“Emang kenapa Zan? Kapan terakhir kamu kesini?” tanyaku heran
“Udah lama banget aku gak kesini. Alee, coba berdiri disitu” suruh Ozan.
Aku hanya mengikuti permintaannya. Aku berdiri tak jauh didepan Museum Fatahillah. Tiba-tiba “klik” suara kamera Ozan berbunyi. Orang ini memegang tanganku dan mengajakku ke tempat persewaan sepeda ontel. Ozan pun menyewa satu buah sepeda ontel untuk beberapa jam.
“Ayo naik. Kita keliling kota lama naik sepeda ontel aja. Biar feelnya dapet. Hehee” ajak Ozan.
Aku bergegas naik, tak lupa aku menggunakkan topi yang aku bawa. Disepanjang perjalanan, Ozan selalu mengabadikan apa saja yang ia anggap menarik untuk diabadikan.
Beberapa jam kemudian, kami mengembalikan sepeda sewaan dan bergegas memasuki mobil untuk pulang. Karena hari mulai gelap. Sesampainya di depan gerbang rumah, Ozan sempat mengatakan sesuatu yang menyentuh hatiku.
“Makasih ya buat hari ini. Aku seneng banget bisa jalan sama kamu. Aku sayang kamu lee!” dengan mengecup keningku hangat. Aku lekas turun dan masuk kedalam rumah.
Pagi cerah tak mampu membangunkanku dari bunga tidur.
“Alee…bangun!!!” teriak mamaku.
Yaampun, aku lupa kalau hari ini Senin. Aku bergegas mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah. Hari ini kakak yang mengantarku. Untung jalanan ibukota tidak terlalu macet.
Sesampainya di sekolah, aku sudah dikejutkan oleh Fajar yang menagih uang cetakan padaku.
“Alee, Rp 50.000 gua tunggu nih…” kata Fajar penuh harap.
“Hahaha, iyaaa jar. Nih gua bayar. Mana pesenan cetakan gua? Lo bawakan?” tanyaku.
“Iyee, nih gua kasih dah. Kita impas yeee…” ujar Fajar.
Aku hanya tersenyum. Yang aku pesan pada Fajar adalah adalah kejutan dua bulanku dengan Ozan. Yaah, tak sabar aku menunggu hari itu.
Setelah bel berbunyi dan menujukkan pukul 13.30 WIB. Saatnya pulang. Hari ini Ozan yang menjemputku. Tak sengaja Ozan melihat bungkusan coklat berisikan surprise untuknya. Lalu Ozan bertanya
“Coklat-coklat apaan itu? Bungkusan apa?”
“Ha? Ada deh…hahaha” jawabku senang.
Dua hari berlalu. Hari ini 7 April 2010 tepat dua bulanku dengan Ozan. Sengaja aku bangun pagi untuk menempelkan selebaran I LOVE OZAN! Yang aku pesan dari Fajar. Jam 04.00 pagi, Maura sudah menjemputku. Yaah, Mauralah yang akan menemaniku menempel selebaran itu. Kita mulai dari gang rumah Ozan, lalu sepanjang jalan yang biasa dilewati Ozan menuju kampusnya. Cukup melelahkan, namun puas. Setelah itu aku dan Maura bergegas menuju rumah Jeje untuk ganti baju seragam dan berangkat ke sekolah.
Jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Tepatnya sms dari Ozan menggetarkan HP ku.
“Yaampun sayang, makasih banget ya selebarannya. Gak bisa ngomong aku. Love you!”
“Iyaa sayang sama-sama. Aku pelajaran dulu ya. Love you!” jawabku singkat.
Lama menunggu akhirnya bel menandakan waktu pulang berbunyi. Aku bergegas keluar dari kelas untuk bertemu Maura. Kebetulan kita tidak satu kelas.
“Alee…!” panggil Maura
“Iyaa ra, inii kita langsung balik atau kemana dulu?” tanyaku.
“Balik aja ya le, mobil mau dipake bokap soalnya…” jawabnya.
“Oke deh…” jawabku semangat.
Sesampainya dirumah Ozan menelfonku.
“Haloo yang, bisa ketemu gak? Aku tunggu di café biasa ya…” telfon ozan singkat dan jelas.
Aku bergegas mengganti baju seragam dengan dress hitam. Entah mengapa hari itu aku ingin menggunakkan dress hitam. Diperjalanan menuju café, entah mengapa perasaanku menjadi tak enak. Serasa ada yang mengganjal. Entah itu pertanda apa. Sampainya di café, aku dikejutkan oleh para pegawai café yang menyambutku hangat. Salah satu pelayan café mengantarku kesebuah meja yang sudah dipesan sebelumnya. Aku semakin terkejut ketika aku melihat dinding tepat di depan meja itu. Terdapat figura yang didalamnya tersusun foto-foto yang membentuk ukiran wajahku. Dan tepat di pojok kanan bawah, bertuliskan kecil “Ozan Photograph”. Ozan yang membuat. Aku pun segera menelfon Ozan untuk mengucapkan terimakasih.
“Halo. . . “ jawab Ozan.
“Sayang. . .makasih ya surprisenya.Yaampuuun. .” kataku
“Iya sayang,sama-sama.Kamu udah sampe mana?aku masih dijalan nih. . .tunggu ya?” jawab
ozan dengan senang.
Belom sempat aku menjawabnya,tiba – tiba. . .
“Gubrakk!!aaa. . . .” suara menyeramkan itu muncul dan sambungan telfonku dengan ozan mati.
“YaTuhann. . .ada apa ini? Ada apa dengan Ozan? Berilah dia keselamatan dan kekuatan yaTuhan.Aminamin.” doaku dalam hati.
Aku masih menunggu Ozan dengan perasaan tidak enak dimeja itu.Detik,menit,bahkan jam yang kulewati tidak menyurutkanku untuk tetap menunggunya.Sampai saat handphoneku berbunyi.Dan itu telpon dari mama Ozan.Aku takut sekali untuk mengangkatnya.aku tak sanggup bila harus mendengar berita yang tak ingin kudengar.Lalu aku kuatkan diri untuk mengangkatnya.
“Halo. . .” jawabku.
“Alee, ini tante. Tante mau ngabarin, Ozan kecelakaan. Dia ditabrak truk saat perjalanan ke café. Kata dokter mata Ozan terkena serpihan kaca mobil yang pecah. Dokter memfonis kalau mata Ozan gak bakal bisa liat lagi. Kalau pun ada itu harus ada sumbangan dari pendonor retina. Kamu cepetan ke Rumah Sakit Pertamina ya lee.. di ruang UGD” jawab tante sambil menahan tangisan, aku langsung mematikan telfon dan bergegas menuju ke rumah sakit.
Sampainya disana aku melihat Ozan yang tergeletak lemah dengan kedua mata ditutup kain perban. Aku tak kuasa menahan air mata. Tak sanggup melihat Ozan seperti itu. Sampai aku berfikir dan berniat untuk mendonorkan retinaku pada Ozan.
“Tante, boleh gak Alee donorin retina Alee buat Ozan?” tanyaku penuh harap.
“Bener lee kamu mau donorin retina kamu buat Ozan?” tanya tante mempertegas.
“Iyaa tante, Alee niat banget. Sumpah tante, Alee gak tega liat Ozan gitu” jawabku tegas.
“Tapi kan kamu masih sekolah, terus apa keluargamu sudah setuju?” tanya tante.
“Itu gak masalah tante. Yang penting Ozan sembuh!!!” jawabku meyakinkan tante.
“Tante gak maksa kamu Lee, kalau bisa jangan… biar tante dan dokter mencari pendonor lain” tante menegaskan.
Saat itu, aku kembali ke rumah dengan perasaan tidak teratur. Aku langsung bercerita dengan kedua orang tuaku. Setelah berunding bersama, aku benar-benar berniat mendonorkan retinaku untuk Ozan namun tanpa sepengetahuan tante, om ataupun Ozan. Namun malam itu juga, aku menulis sebuah surat untuk Ozan.
Keesokkan harinya, tanpa sepengetahuan tante, om dan Ozan. Aku pergi menemui dokter yang menangani Ozan. Aku hanya menitipkan surat untuk Ozan pada dokter itu. Yaah, dokter Heru namanya.
“Kamu benar-benar pacar yang baik. Ozan pasti senang memiliki pacar seperti kamu” tiba-tiba dokter berkata seperti itu padaku.
Aku hanya tersenyum. Lalu, dimulailah operasi pemindahan retina. Dan selang beberapa jam, aku tersadar dari bius yang melelapkanku. Semua sekelilingku berubah menjadi hitam. Yaah, aku sadar ini konsekuensi yang harus aku terima. Aku menelfon mama untuk segera menjemputku dari rumah sakit.
Selang beberapa hari, aku mendengar kabar bahun Ozan sudah pulang dari rumah sakit. Aku senang mendengar itu. Tiba-tiba bel rumah berbunyi aku segera membukakan pintu.
“Iyaa, cari siapa ya?” tanyaku.
Tiba-tiba sesosok laki-laki, bertubuhtinggi besar memelukku. Aku terkejut. Aku tidak tau itu siapa. Namun, dari bau parfumnya, sepertinya dia adalah Ozan.
“Sayang, kenapa kamu donorin retinamu ke aku? Ya ampun, aku nangis pas baca surat dari kamu… aku gak bisa ngomong apa-apa. Cuma makasih aja yang bisa aku ucapin. Aku janji sama kamu, aku bakal jagain kamu sampe aku mati! Hidupku buat kamu! Janji ya jangan ninggalin aku. Aku sayang kamu!” tegas Ozan dengan lantang.
Aku hanya dapat menangis terharu dan senang. Dan berharap, semua yang Ozan katakan benar adanya. Amin.
Balada Hidup
Jumat, 23 Juli 2010
Rabu, 21 Juli 2010
Dan Ini Dengan Penuh Kegaptekkan !
Well, ini permainan lama yang baru saya punya. hahahaa
Jujur saya tidak terlalu mengerti dunia maya, dan segala yang ada didalamnya.
Dan tak terlalu tertarik pula olehnya. hahahaa
Tapi, seiring berjalanya kemerdekaan zaman, saya melihat ini cukup membantu. yaaah, membantu.
Meski kita harus tetap menjaga etitut yang berlaku.
Yaah, semoga dengan memiliki blog ini saya lebih terbantu. Terimakasih :D
Jujur saya tidak terlalu mengerti dunia maya, dan segala yang ada didalamnya.
Dan tak terlalu tertarik pula olehnya. hahahaa
Tapi, seiring berjalanya kemerdekaan zaman, saya melihat ini cukup membantu. yaaah, membantu.
Meski kita harus tetap menjaga etitut yang berlaku.
Yaah, semoga dengan memiliki blog ini saya lebih terbantu. Terimakasih :D
Langganan:
Postingan (Atom)